Mari Kita Sukseskan Kurikulum 2013

Jumat, 22 April 2011

Menjadi Pemimpin di Kelas

|

Tokoh pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara sering menyebut-nyebut pepatah tradisional yang menggambarkan tugas seorang pemimpin dalam hal ini guru , yaitu:

Ing ngarsa sung tulada
Ing madya mangun karsa
Tut wuri handayani


Yang jika di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kira-kira seperti berikut ini:

Di muka memberi teladan
Di tengah-tengah membangun semangat
Dari belakang memberikan pengaruh.

Pepatah ini sudah tidak asing lagi bagi orang-orang di dunia pendidikan karena sering diucapkan, dibahas, dan bahkan yang ketiga tut wuri handayani dijadikan slogan resmi pendidikan. Dari ketiga baris pepatah tersebut sudah sangat jelas bahwa menjadi seorang pemimpin apalagi di dalam kelas tidak perlu menunjukkan kekuasaan secara berlebihan kepada para siswa dalam upaya mengarahkan mereka untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan secara cepat dan efisien dengan mengabaikan efektivitasnya. Pemimpin di kelas hendaklah memberi teladan, membangun semangat dan menanamkan pengaruh yang baik supaya anak memiliki perilaku yang baik seperti yang ditetapkan dalam tujuantujuan pendidikan.
Adapun bila yang terjadi di dalam kelas anak-anak mengobrol di belakang ketika guru menerangkan di depan, tidak berarti bahwa anak-anak tersebut salah seratus persen. Terdapat beberapa kemungkinan yang harus diperbaiki dalam performa mengajar kita, misalnya: kontak mata tidak menyeluruh, gaya mengajarnya tidak menarik, atau beberapa hal lain yang bersifat teknis maupun non teknis. Oleh karenanya guru seyogyanya melakukan refleksi/introspeksi atas apa yang sudah dilakukan di dalam kelas sambil berupaya memberikan perbaikan atau peningkatan.

Untuk dapat tampil dengan penuh percaya diri, guru hendaklah melakukan perencanaan-perencanaan yang matang untuk pelaksanaan KBM yang diselenggarakannya termasuk evaluasinya. Ketika perencanaan ini juga, seorang guru dapat membayangkan kira-kira metode apa atau gaya kepemimpinan bagaimana yang tepat diterapkan pada situasi dan kondisi kelasnya.
Bersikap ramah ketika mengajar di dalam kelas dapat menciptakan rasa aman di kalangan murid-murid. Jika murid merasa aman dan tenang, pembelajaran dapat dilaksanakan secara ringan, mudah dan menyenangkan. Dalam kondisi seperti ini sangat dimungkinkan sikap positif anak baik terhadap guru maupun pelajarannya dapat timbul. Kondisi ini pada gilirannya dapat mendorong anak untuk belajar lebih baik lagi. Di samping itu, guru pun dapat mengidentifikasi keadaan siswa ketika mengajar. Berikan contoh/teladan yang baik, bangunlah semangat anak untuk belajar, serta tanamkan pengaruh-pengaruh yang baik pada anak supaya selanjutnya mereka dapat melakukan segala sesuatu dengan baik dan benar pula.

Kemampuan guru untuk mempengaruhi para siswa supaya melakukan pembelajaran dengan baik adalah suatu keharusan. Oleh karenanya, guru profesional hendaklah selalu berupaya untuk meningkatkan kepemimpinannya dengan mengetahui tugas-tugas utama yang dilakukan pemimpin, fungsinya, dan keterampilan-keterampilan apa yang harus dimiliki untuk menjadi pemimpin yang baik. Dengan penguasaan hal-hal tersebut, diharapkan guru profesional dapat benar-benar memimpin siswa mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Menjadi pemimpin tidak hanya harus selalu berada di depan (front leader), bisa saja di tengah (social leader) maupun di belakang (rear leader).

sumber : PENGEMBANGAN ASPEK KEPEMIMPINAN GURU DALAM PENYELENGGARAAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DI KELAS Oleh: Dra. Aas Saomah, M.Si

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2011 PengetahuaN UmuM dan PendidikaN

Blog dikelola oleh : Hilman Burhanudin